Pada tahun 2017 Indonesia menempati urutan ke 57 dari total 65 negara dari segi membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan dalam peringkat pendidikan dunia yang diterbitkan Organization for Economic Cooperation And Development (OECD). Sedikit menyakitkan ketika mengetahui bahwa Indonesia termasuk negara yang tingkat pendidikannya tertinggal.

“Lahir dari keluarga miskin melahirkan generasi yang akan sama miskinnya, atau bahkan lebih.” Kalimat tersebut sering kali kita dengar.

Dalam Ilmu Sosial, kemiskinan selalu satu garis lurus dengan rendahnya pendidikan. Dalam beberapa riset mengatakan bahwa anak yang terlahir dari keluarga kaya mempunyai kemampuan untuk menunjang pendidikan dan masa depan, terlahir dari keluarga kaya mendapatkan lebih banyak fasilitas, seperti kelas tambahan belajar diluar sekolah (Bimbel), dan mereka cenderung mendapatkan kemudahan dalam melakukan apapun seperti memiliki relasi yang cukup untuk sang anak dimasa depan. Sedangkan keluarga miskin tidak mempunyai banyak kemampuan untuk menunjang kemampuan anaknya, bahkan ada anak-anak yang harus putus sekolah demi kerja menyambung hidup keluarganya.

Agar mereka yang terlahir miskin dapat melanjutkan pendidikan,Pemerintah dan banyak intansi lainnya yang membuat program dimana anak dari keluarga miskin dapat melanjutkan pendidikan tanpa mengeluarkan biaya. Yaitu Program Beasiswa.

Menurut Munasih (2009) beasiswa bisa diartikan sebagai bentuk penghargaan yang diberikan kepada individu agar dapat melanjutkan pendidikan kejenjang lebih tinggi. Pada dasarnya, beasiswa adalah penghasilan bagi penerima.

Salah satu keunggulan program ini adalah bisa meningkatkan potensi dalam diri seseorang yang bukan hanya ditujukan untuk meringankan beban materi tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia dimasa depan. Seseorang yang kurang mampu dalam hal ekonomi dapat terus melanjutkan pendidikannya dalam suatu bidang, baik akademik maupun non-akademik.

Banyak sekali beasiswa yang ditujukan untuk anak-anak yang kurang mampu dan berprestasi, baik itu beasiswa pemerintah maupun instansi swasta lainnya seperti Djarum Beasiswa Plus, BFI Finance, Beasiswa Bank Indonesia, Beasiswa Astra, dan lainnya.

Menurut bapak Dian Rachmat Gumelar, S.H., M.H., dosen Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung, yang dihubungi melalui Whatss App, beasiswa bisa diperoleh dengan cara, yaitu diberi dan dicari.

“Jika diberi tawaran beasiswa, penyelenggara biasa meminta rekomendasi dari program studi yang bersangkutan dan mahasiswa yang mendapat rekomendasi akan mendapat beasiswa. Dan jika program beasiswa yang dicari bisa dari banyak cara, yaitu browsing internet, melihat di majalah atau koran, dan lainnya. Contoh dari beasiswa yang bisa dicari yaitu beasiswa Bank BRI, BI, BCA Finance.” jelas dosen yang akrab dipanggil pak Dian

Menurut pak Dian, jenis beasiswa tergantung dari pihak penyelenggara. Ada beasiswa full atau penuh (dari awal masuk hingga lulus kuliah gratis), ada juga yang hanya setengah (mungkin hanya biaya penilitian, mungkin hanya UKT atau biaya pelatihan saja).

“Manfaat dari program beasiswa ini sendiri dapat membantu membiayai pendidikan, dan beberapa penyelenggara memberi pelatihan yang bisa menambah ilmu juga pengalaman yang bertujuan mengembangkan dan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia.” tambah pak Dian.

Namun menurut Pak Dian, kemiskinan tidak bisa dikaitkan dengan faktor penghambat pendidikan. “Amanat konstitusi kita, pemerintah wajib menggunakan 20% dari APBN untuk kepentingan pendidikan yang artinya untuk dana ada, tinggal bagaimana merubah mindset (cara berpikir) penerima dana itu supaya mau berfikir keras untuk keluar dari jalur kemiskinannya.” terang pak Dian.

“Jika masih memiliki mindset tetap miskin karena pemikiran itu maka ia tidak berfikir untuk membuat lompatan-lompatan bagaimana cara ia keluar dari kemiskinan dengan memanfaatkan potensi-potensi dalam dirinya.” jelasnya.

Menurut mas Rahmat Aji mahasiswa FKIP UNS angkatan 2019 salah satu penerima beasiswa bidikmisi, beasiswa yang diberikan pemerintah kepada anak-anak yang mempunyai keterbatasan ekonomi akan di evaluasi tiap semester.

“Saya mendapatkan beasiswa Bidikmisi, karena sudah pernah mendapat bantuan dari pemerintah seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP).” kata mas Rahmat.

Mas Rahmat juga menjelaskan bahwa mahasiswa yang mendapatkan beasiswa Bidikmisi dibebaskan dari uang per semester, UKT, SPI, dan mendapat uang saku tiap bulannya untuk menunjang kebutuhan kuliah.

“Beasiswa itu adalah sebuah kunci penunjang untuk anak-anak yang mempunyai prestasi atau semacam apresiasi untuk kita yang sudah berusaha semaksimal mungkin buat kuliah.” tutur mas Rahmat.

Mas Rahmat merupakan salah satu contoh generasi muda yang pantang menyerah dan tidak putus asa dalam mengambil peluang sekecil apapun demi memajukan dirinya.

Salah satu cara mengurangi angka kemiskinan tersebut yaitu dengan meningkatkan kualitas pendidikan agar dapat memperkecil faktor rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Dengan berpendidikan orang dapat mencari pekerjaan yang lebih baik, mengurangi angka pengangguran serta kriminalitas, dan pendidikan pula yang merubah mindset seseorang dalam bertindak. Orang berpendidikan dapat lebih mudah memutuskan suatu hal dari apapun yang ia pernah pelajari. Dengan pendidikan pula kita dapat memajukan bangsa kegenarasi yang lebih baik. Generasi yang hebat, tangguh dan berfikir kritis.

Kemiskinan belum bisa atau tidak serta merta disebut satu faktor penghambat pendidikan. Karena sejatinya seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan miskin. Tapi bagaimana mau merubah kemiskinan tersebut menjadi tidak miskin dan lebih baik lagi. Bisa jadi jika seseorang mempunyai kemampuan yang ulet, kuat, dan rajin, meskipun ia berasal dari keluarga tidak mampu karena sifat-sifatnya itu, ia bisa mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi, kemudian ilmu yang diperoleh diamalkan sehingga bisa digunakan untuk menaikan derajat dan martabat diri dan keluarganya.

Program beasiswa menjadi kunci kemerdekaan belajar untuk saat ini dan dimasa depan. Dengan adanya program ini, banyak keluarga tidak mampu tertolong sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Download Karya Feature Kemiskinan bukan penghambat kemajuan pendidikan! di sini

Mari berbagi...