“Sekolah kita umumnya sangat tradisional, konservatif, birokratif, dan resistan terhadap perubahan. Satu cara yang harus dilakukan untuk menyelamatkan generasi muda ini adalah melalui kemerdekaan belajar.”Sebuah kutipan kata pengantar dalam buku Freedom to Learn oleh Carl Rogers pada tahun 1969.

Setiap anak yang dilahirkan pasti memiliki keistimewaan yang berbeda-beda. Tetapi setiap anak juga memiliki kemerdekaan yang sama untuk belajar. Dalam setiap proses belajar, harus tercipta suasana yang bahagia. Bahagia buat guru, bahagia buat peserta didik, bahagia buat orang tua, dan bahagia untuk semua orang.

Namun selama ini, siswa selalu dipatok dengan nilai-nilai tertentu supaya lulus sehingga guru dan sekolah yang dianggap mempunyai andil paling besar dalam menentukan berhasil tidaknya siswa belajar. Dan lebih merdeka untuk menilai hasil belajar siswa. Sementara siswa pasti menginginkan hal yang lebih merdeka dalam mengembangkan potensi dan pengetahuan yang dikuasainya.

“Ijazah itu menandakan bahwa kita pernah sekolah, bukan membuktikan kita pernah berfikir.” kata Rocky Gerung pengamat politik yang juga dosen filsafat ketika menjadi narasumber dalam acara ETalkshow salah satu stasiun tv swasta yang diunggah di youtube.com Jum’at (09/11/2018).

Untuk anak-anak yang terbiasa dengan aktivitas belajar yang tinggi tentu Ujian Nasional bukanlah hal yang luar biasa. Tetapi bagi sebagian anak-anak dengan kondisi dan resiko lingkungan yang jauh dari suasana bahagia dan nyaman, Ujian Nasional seolah-olah mengancam “kemerdekaan”-nya. “Kemerdekaan” yang berkaitan dengan cita-cita sang anak.

Meskipun terjadi pemetaan kurikulum pada sekolah-sekolah, Ujian Nasional tetaplah menjadi ujung penentu dalam tiap-tiap jenjang sekolah. Disinilah nasib siswa merasa dipertaruhkan.

Ezyqueena Bernadhetia Deandra Flo L. Listy, siswi SD Warga kelas 6 yang sejak bulan Maret 2020 harus belajar dirumah karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk belajar di sekolah merasa bahwa kelas 6 adalah kelas yang paling berat karena harus menghadapi Ujian Nasional.

“Saya memilih tidak ada Ujian Nasional karena selain banyaknya materi pelajaran  yang harus diulang dan perjuangan belajarnya selama 6 tahun hanya ditentukan dalam waktu 3 sampai 5 hari saja.” kata siswi yang biasa dipanggil Flo.

“Saya sekolah dari kelas 1 sampai kelas 6, kalau nilai Ujian Nasional saya jelek pasti tidak lulus. Kalaupun lulus pasti susah untuk masuk sekolah favorit.” tambah Flo.

Sementara itu, menurut Bapak Agus Suryanto S.Pd selaku Kepala SD Warga Surakarta menuturkan bahwa apapun kebijakan pemerintah terkait penghapusan ujian nasional dan proses pembelajaran, harus didukung oleh materi dan tenaga pengajar yang benar benar dipersiapkan dengan matang.

“Apabila Ujian Nasional benar-benar dihapus, maka nilai nilai kelulusan diambil dari nilai raport kelas 4, 5, dan 6 semester 1 ditambah dengan nilai-nilai ekstrakulikuler dan intrakulikuler sekolah.” kata pak Agus.

Belajar adalah sebuah perjuangan untuk memperoleh ilmu dan segala manfaatnya dimana pun berada, baik di sekolah maupun di rumah atau bahkan ditempat tempat lainnya. Meski sekolah adalah salah satu tempat yang paling umum digunakan sebagai sarana belajar.

Era sekarang ini, nilai bukanlah satu-satunya penentu dan tolak ukur kemampuan siswa. Tetapi apabila Ujian Nasional benar-benar dihapus bukan tidak mungkin bahwa nantinya akan membuat banyak siswa yang terlalu merdeka belajar karena sudah terbebas dari bayang-bayang sulitnya beban Ujian Nasional yang selama ini sudah sangat mengakar.

Sesungguhnya proses belajar membutuhkan dukungan dari banyak pihak dan kemerdekaan belajar adalah sesuatu hak yang harus diperjuangkan, bukan diberikan.

Download Karya Feature  “Nasib Dalam Hitungan Hari”  di sini

Mari berbagi...