Pak Santoso dan bu Harni, pasangan suami-istri yang bersahaja berhasil mengantarkan ke empat anaknya menjadi orang sukses dan dibanggakan. Anak pertama yang bernama Nani menjadi Biarawati, anak kedua yang bernama Thomas bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta, anak ketiga yang bernama Dewi bekerja di Rumah Sakit Elisabeth Semarang di bagian gizi dan anak keempat yang bernama Novi menjadi seorang guru TK Maria Indriyasana di Sukoharjo.

Semua keberhasilan yang mereka dapatkan sekarang merupakan kerja keras dan usaha yang pantang menyerah. Bertahun-tahun lamanya semua tantangan dan rintangan mereka lalui agar ke empat anaknya menjadi orang sukses.

Pak Santoso bekerja sebagai buruh di suatu pabrik dengan penghasilan yang pas-pasan. Dan ibu Harni juga bekerja sebagai buruh pabrik kain, menjual sayur matang, dan juga menjadi tenaga penitipan anak untuk membantu perekonomian keluarga

“Saya bekerja seperti ini agar segala kebutuhan dan keperluan sekolah anak saya semuanya dapat terpenuhi.” kata bu Harni.

Mereka bekerja seharian bahkan hingga larut malam. Ke empat anaknya pun juga bahu membahu menyelesaikan tugas rumah seperti menyapu, mencuci piring, dan masih banyak lagi. Itu semua dilakukan untuk sedikit meringankan pekerjaan orang tua mereka.

Setiap bulan pak Santoso harus membayar iuran SPP ke empat anaknya. Hingga suatu saat tiba membayar uang SPP tersebut, pak Santoso belum bisa membayar SPP ke empat anaknya. Sehingga terjadi tunggakan dalam pembayaran. Namun pak Santoso sangat beruntung karena pihak sekolah masih memberikan perpanjangan waktu pembayaran SPP. Setelah beberapa hari, waktunya tanggal jatuh tempo untuk membayar SPP ternyata pak Santoso belum juga mendapatkan uang tersebut.

”Suami saya terpaksa menggadaikan cincin yang merupakan peninggalan dari orang tuanya.” kenang bu Harni.

Setelah menggadaikan cincin tersebut pak Santoso segera pergi ke sekolah untuk membayar SPP ke empat anaknya. Pak Santoso selalu berusaha dengan sekuat tenaga agar anak-anaknya tetap bisa bersekolah dan berharap kelak suatu saat semua anaknya menjadi orang yang berhasil.

Setiap hari Pak Santoso dan ibu Harni selalu berdoa dan memberikan semangat kepada anak-anaknya agar tetap belajar walaupun hanya berbekal dengan lampu teplok karena keluarga tersebut tidak mampu memasang listrik.

Aliran listrik yang didapatkannya dari tetangga depan rumahnya pun harus diputus ketika Dewi anak ketiga pak Santoso tes semesteran. Karena pemilik listrik tersebut takut bila suatu saat rumahnya dikontrol oleh petugas PLN. Pemutusan aliran listrik tersebut harus ia terima dengan lapang dada dan penuh keikhlasan. Dan mengharuskan Dewi belajar dengan penerangan seadanya.

Padahal sudah bertahun-tahun listrik tersebut dialirkan ke rumah pak Santoso dan tidak terjadi masalah. Bahkan setiap terjadi kerusakan listrik di rumah pemilik tersebut pak Santoso juga yang memperbaiki. Selain itu, pak Santosa tidak pernah telat dalam membayar iuran listrik setiap bulannya.

Tidak hanya itu, keluarga pak Santoso ini juga mendapat banyak cacian dan makian dari tetangga dekat yang lainnya. Cacian yang ia terima juga sangat menyakitkan hati. Keluarga ini di caci-maki karena menjadi keluarga miskin, mempunyai banyak anak, tidak punya listrik, tinggal di rumah yang tua dan jelek.

“Saya ikhlas dan sabar dalam menghadapi caci-maki tetangga ” ujar bu Harni dengan tetesan air mata di pipinya.

Namun cacian dan makian tersebut tidak membuat padam semangat keluarga mereka. Justru membuat mereka semakin tertantang untuk terus berkembang dan membuktikan kepada semua tetangga bahwa mereka mampu menjadi orang yang sepadan seperti mereka.

Hari demi hari mereka lalui hingga beberapa tahun kemudian anak kedua mereka yang bernama Thomas lulus SMK. Thomas mencoba untuk merantau ke Jakarta dengan harapan bisa merubah nasib keluarganya.

Di sana Thomas bekerja di sebuah toko elektronik dan jika ada lowongan pekerjaan dari surat kabar yang gajinya lebih menjanjikan ia juga akan melamar. Setelah mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, Thomas tidak langsung puas begitu saja. Ia juga kuliah agar mendapatkan pekerjaan yang lebih menjanjikan.

Saat tidak ada kuliah, Thomas juga bekerja sampingan di suatu pembangunan gedung sebagai pengecat bangunan. Ia sama sekali tidak malu dengan pekerjaan tersebut karena ia tetap fokus pada tujuan pertamanya yaitu membanggakan kedua orang tuanya.

Dari gaji sebagai pengecat bangunan tersebut, Thomas gunakan untuk membayar biaya kuliahnya dan sedikit membantu keuangan keluarga mereka untuk dibayarkan SPP adik-adiknya.

Karena dulu belum ada teknologi secanggih sekarang ini, mereka selalu berkirim surat untuk menanyakan kabar dan mengobati kerinduan. Thomas menata waktu sebaik mungkin agar bisa membagi antara jam bekerja dengan jam belajar. Hingga saatnya wisuda yang telah dinanti- nantikan telah tiba. Bu Harni dan salah satu adiknya hadir dalam acara wisuda tersebut. Bu Harni tampak bangga menyaksikan anak lelaki satusatunya berdiri gagah dengan pakaian wisudanya dan sekarang bekerja di perusahaan telekomunikasi di Jakarta.

Adik Thomas yang bernama Dewi, mendapatkan pekerjaan di Rumah Sakit Elisabeth Semarang bukan karena pendidikan yang dilakoninya. Namun karena sikapnya yang sopan, ramah, dan mempunyai ketekunan yang kuat membuat salah seorang tetangganya yang menjabat sebagai salah satu kepala bagian di Rumah Sakit Elisabeth Semarang tertarik dan menawarkan pekerjaan kepadanya. Tawaran itu diterima Dewi dan menjalani serangkaian proses penerimaan karyawan agar bisa bekerja di Rumah Sakit tersebut. Akhirnya Dewi diterima dan bekerja disana sampai sekarang.

Sedangakan Novi bekerja sebagai Guru TK, yang awalnya hanya mendapat gaji yang jauh dari kata pas. Lambat laun karena kesabaran dan ketekunan yang ia miliki, akhirnya sekarang mendapatkan pendapatan yang cukup untuk kehidupannya.

Dan anak pertama pak Santoso Nani bekerja sebagai biarawati dan saat saat ini sedang menempuh pendidikan Psikologi di Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta.

Sekarang pak Santoso dan ibu Harni pun bisa memetik hasil perjuangan yang telah mereka kerahkan selama ini dan hanya tinggal menikmati sisa-sisa umur di hari tuanya.

Manusia harus selalu bersyukur, pantang menyerah, tidak tumbang jika di caci maki dan selalu berusaha yang terbaik. Semua manusia akan mendapatkan keadilan dari Sang Maha Kuasa. Maka harus mampu dan kuat dalam menghadapi setiap tantangan, rintangan, dan hambatan hidup yang ada. Karena sejatinya roda kehidupan itu selalu berputar, yang di atas tidak selamanya diatas dan yang dibawah tidak selamanya di bawah.

Dan tanpa pendidikan yang tinggi pun seseorang bisa menjadi sukses asalkan mempunyai semangat pantang menyerah, tekun, berusaha, dan selalu berdoa.

Download Karya Feature Perjuangan Buruh Menggapai Asa di sini

Mari berbagi...