Sejak diumumkan kasus pertama Covid-19 (Corona Virus Disease) oleh Presiden Joko Widodo bersama Menteri Kesehatan Terawan Agus awal Maret 2020 banyak terjadi perubahan disegala bidang. Termasuk bidang pendidikan. Hingga diberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa wilayah. Covid-19 yang semakin mewabah membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan agar sekolah-sekolah melakukan pembelajaran jarak jauh dan siswanya belajar di rumah.

Pembelajaran jarak jauh merupakan media pembelajaran formal melalui dunia maya, dimana siswa mengakses internet untuk mengikuti pelajaran dari rumah karena proses belajar mengajar tidak dapat dilakukan secara tatap muka untuk menghindari resiko meluasnya penularan Covid-19.

Pemerintah Kota Surakarta turut menerapkan pembelajaran jarak jauh. Sejak awal Maret 2020 sampai Agustus ini masih dilakukan pembelajaran jarak jauh.

Pembelajaran jarak jauh ini disambut baik oleh siswa-siswi dan bapak/ibu guru SMA 2 Surakarta. Namun kendala seperti jaringan signal yang tidak bagus atau smartphone yang mengalami gangguan sering kali terjadi.

Bagi siswa-siswi dari golongan menengah ke bawah, kesulitan membeli kuota internet juga menjadi masalah yang serius karena uang untuk membeli internet bertambah dari biasanya.

“Pembelajaran daring ini sangat menguntungkan dan aman di masa pandemi seperti sekarang, karena sekolah di pindahkan di rumah jadi tidak perlu keluar rumah untuk mengurangi penularan COVID-19 dan sebagai ganti nya uang bensin di gunakan untuk membeli kuota internet.” ujar Frandita Adelia siswi kelas X MIPA 2.

“Akan tetapi, kelemahan daring ini bagi orang tua yang tidak mampu dan tidak bisa membelikan smartphone serta uang untuk beli kuota internet yang akan dirugikan, karena anaknya akan ketinggalan materi dan mendapat nilai buruk hanya karena sarana dan prasarana padahal sebenarnya anak ini termasuk anak pintar di sekolahnya, ” tambahnya.

Frandita Adelia menyimpulkan bahwa belajar daring ini banyak pro dan kontra-nya dikalangan pelajar, banyak positif dan negatifnya. Positifnya bisa dilihat dari situasi pandemi seperti sekarang yang harus melakukan pembelajaran daring demi keselamatan bersama. Walaupun banyak sisi baik yang dialami frandita dalam belajar daring. Tetapi banyak juga keluh kesah yang disampaikan dari segi ekonomi yang sedang memburuk saat pandemi ini terjadi apalagi pelajaran daring memerlukan akses internet yg cukup dan biaya yang tidak sedikit.

Senada dengan Frandita Adelia, menurut Amanda siswi kelas X MIPA 2, pembelajaran jarak jauh sangat efektif dilakukan ketika masa pandemi Covid19 seperti sekarang. “Bahkan tanpa sadar pengetahuan iptek lebih maju daripada pembelajaran tatap muka karena sering menggunakan smartphone.” kata Amanda.

“Selain itu, saat siswa lebih banyak dirumah maka waktu untuk mempelajari bakat dan minatnya lebih banyak daripada pembelajaran tatap muka yang hanya mengejar standar kelulusan kurikulum.” tambah Amanda.

Namun tidak begitu menurut Luthfianindya Megawati Putri siswi kelas X MIPA 2. “Menurut saya pembelajaran jarak jauh sedikit kurang efektif karena tidak semua siswa memiliki internet dan signal yang baik di tempat tinggalnya, namun untuk selama pandemi Covid-19 pembelajaran jarak jauh harus tetap diberlakukan untuk menghindari adanya siswa yang tertular virus ini,” tutur Luthfianindya Megawati Putri.

“Tapi apalah daya hanya metode ini yang dapat di lakukan demi tetap mengikuti materi pelajaran dan demi menghindari resiko tertular virus ini yang nantinya akan menambah angka orang yang terjangkit virus ini.” Tambahnya.

Menurut Bapak Suyono pembimbing akademik mapel agama di SMA 2 Surakarta, pembelajaran jarak jauh merupakan media pembelajaran formal yang tengah gencar digunakan di dunia pendidikan, khususnya di Indonesia karena munculnya Covid-19 dari bulan Maret yang hingga sekarang masih terus membesar angka penjangkitannya.

“Saya menggunakan media Google Classroom (GC) dan aplikasi ExamView agar ketika soal yang dikerjakan oleh siswa-siswi selesai bisa langsung muncul nilainya.” kata pak Suyono.

Menurut pak Suyono, keuntungan selama pembelajaran daring ini antara lain jadwal tertata dengan baik, materi dishare, buku paket atau LKS sudah ditangan siswa-siswi, tinggal dibaca, bila ada pertanyaan dipersilahkan, dan dijawab, bila tidak ada diberi tugas uji kompetensi.

“Selain itu, mengajar lewat GC lebih menguntungkan karena tenaga dan pikiran yang dikeluarkan tidak banyak bila dibandingkan dengan tatap muka.” terang pak Suyono.

Diterapkannya sistem pembelajaran jarak jauh di dunia pendidikan adalah salah satu cara agar tetap berlangsungnya pembelajaran bagi siswasiswi, meski ada kelebihan dan kekurangannya.

Kelebihannya yaitu proses belajar mengajar menjadi lebih mudah dan dapat menghemat waktu dan tenaga. Sedangkan kekurangannya yaitu kesulitan dalam sarana yaitu smartphone dan pembelian kuota dikarenakan perekonomian yang tidak mendukung serta jangkauan signal internet demi kelancaran mengikuti pembelajaran jarak jauh. Dan mari bersama-sama kita perbaiki baik sistemnya, pendukung, dan lain-lain demi pendidikan di negara kita.

Sebagai anak bangsa, tentu tidak ingin pendidikan berhenti dan pelajar merupakan aset bangsa dalam melanjutkan estafet pembangunan ke depan Covid-19 bukanlah penghalang dalam pendidikan. Meskipun belajar secara daring, tetapi tidak mematahkan semangat dalam belajar dan meraih impian. Bekerja keras akan membawa pada keberhasilan. Biarpun belajar secara online tidak menutup kemungkinan untuk sukses di masa pandemi seperti ini. Usaha tidak akan mengkhianati suatu hasil apapun kondisinya.

Download Karya Feature PRO KONTRA PEMBELAJARAN JARAK JAUH di sini

Mari berbagi...